Pelawak Indonesia semakin menggunakan platform mereka untuk menangani isu-isu sosial dan politik dalam karya mereka, terutama seputar kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. Trend ini semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir, dengan semakin banyak pelawak perempuan muncul dan mengambil panggung untuk mengkritik politisi, kandidat pemilu, dan kebijakan mereka.

Menantang Tabu dan Stereotip
Salah satu contoh yang menonjol adalah acara “Comedy for Equality” yang diselenggarakan oleh PBB di Indonesia pada tahun 2021. Acara tersebut menampilkan 10 pelawak Indonesia yang mengangkat isu-isu terkait kesetaraan gender dan inisiatif 16 Hari Aktivisme Menentang Kekerasan Berbasis Gender secara kreatif melalui pertunjukan komedi mereka. Koordinator Resident PBB untuk Indonesia, Valerie Julliand, mencatat bahwa “Kekerasan berbasis gender bisa menjadi topik yang tidak nyaman dan menyakitkan untuk dibicarakan. Namun, mengatasi hal ini dengan efektif berarti bisa berbicara secara jujur,” dan bahwa proyek ini “menantang tabu dan membuat percakapan tentang topik yang sangat serius ini sedikit lebih tidak menakutkan.”
Pelawak senior Indonesia, Sakdiyah Ma’ruf, yang menjadi mentor bagi para pelawak dalam acara tersebut, menekankan bahwa “Stand-up comedy adalah bentuk seni yang memungkinkan kita untuk berbagi kisah pribadi kita dan menangani isu-isu sensitif, termasuk kekerasan berbasis gender dan ketidaksetaraan.” Ma’ruf secara konsisten menantang stereotip dan menolak tekanan untuk melakukan sensor diri sepanjang karirnya, menggunakan komedi “sebagai cara untuk menantang ekstremisme Islam dan kekerasan terhadap perempuan.”
Memanfaatkan Komedi untuk Kritik Politik
Selain mengatasi isu-isu gender, pelawak Indonesia juga menggunakan platform mereka untuk memberikan kritik dan komentar politik. Pelawak seperti trio Trio Netizen, yang terdiri dari Ekky Parigayung, Sandi Sukron Munawar, dan Rio Saputra, telah populer karena menggunakan lelucon untuk mengkritik politisi dan kebijakan.
Demikian pula, pelawak perempuan seperti Rina Nose dan Kiky Saputri semakin vokal dalam komentar politik mereka, menggunakan pertunjukan mereka untuk mengomentari pemerintah dan kandidat pemilu. Selama episode terbaru acara talk show “Mata Najwa,” Rina Nose tampil dengan monolog sebagai karakter Dasiyah dari serial Netflix “Gadis Kretek,” menggunakan platform tersebut untuk berkomentar secara sarkastik bahwa “Rasa tembakau tidak bisa dimanipulasi, berbeda dengan hukum di negara ini.”
Kiky Saputri juga mendapat perhatian untuk pertunjukan “roast”-nya, di mana dia membuat lelucon tentang tamu-tamu tertentu, termasuk politisi dan kandidat presiden. Baik Anies Baswedan maupun Ganjar Pranowo telah bersedia menjadi “roasted” di program komedi Saputri “Lapor Pak!”
Menavigasi Tantangan
Meskipun meningkatnya komentar politik dalam komedi Indonesia dianggap sebagai perkembangan positif, hal ini tidak terlepas dari tantangannya. Dosen komunikasi politik Nani Nurani Muksin dari Universitas Muhammadiyah Jakarta mencatat bahwa “Dibutuhkan keberanian untuk melakukannya sendirian” sebagai pelawak perempuan, karena baik politik maupun komedi adalah bidang yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki.
Selain itu, ada kekhawatiran tentang menjaga keseimbangan antara humor dan kritik, terutama dalam konten politik. Seperti yang dikemukakan aktivis feminis dan penulis Olin Monteiro, “Sulit untuk menyeimbangkan lelucon dan kritik, … terutama [ketika] politik. Itu adalah seni di dalamnya sendiri.” Juga telah terjadi kasus pelawak menghadapi reaksi negatif atau sensor atas komentar politik mereka, seperti Bintang Emon yang diserang oleh “buzzers” (akun media sosial yang dibayar) dari figur politik untuk konten online-nya, dan Kiky Saputri yang memiliki bagian dari “roast”-nya terhadap kandidat presiden Ganjar Pranowo dipotong di televisi.
Membangun Ekosistem yang Inklusif
Meskipun ada tantangan, munculnya lebih banyak pelawak perempuan yang mengatasi isu-isu sosial dan politik dianggap sebagai perkembangan positif. Aktivis feminis Olin Monteiro menekankan pentingnya membangun ekosistem komik yang lebih inklusif, di mana perempuan dapat merasa nyaman berpartisipasi dan saling mendukung. Pelawak senior Sakdiyah Ma’ruf, yang perspektif gender-nya membantunya menantang norma-norma konservatif dalam masyarakat dalam leluconnya, menyatakan kegembiraannya melihat lebih banyak pelawak perempuan bangkit dan berjanji untuk mendukung mereka sepenuhnya.
Saat pelawak Indonesia terus memanfaatkan platform mereka untuk mengatasi isu-isu sosial dan memberikan komentar politik, kebutuhan akan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung menjadi semakin penting. Dengan membangun ekosistem yang memberdayakan perempuan dan mendorong beragam perspektif, komedi Indonesia dapat terus berkembang sebagai alat yang kuat untuk perubahan sosial dan kritik politik.

Gelak Tawa Indonesia: Menggali Humor Terbaik di Tanah Air
Seri Lucu: Joke Terbaik di Indonesia yang Bikin Tawa Bergulir